Pria Sejati Katolik

komunitas terbuka untuk semua pria Katolik

Terhindar dari perceraian

Dear All,

Pertama-tama kami ucapkan HAPPY VALENTINE untuk para PRIA SEJATI KATOLIK., tentunya sebagai PRIA SEJATI KATOLIK, kasih Sayang tidak hanya kita tunjukkan saat hari velentine bukan? he..he..

Update kali ini, saya mau sharingkan sedikit, kesaksian yang “sungguh menggetarkan” seluruh peserta yang hadir dalam KRK tadi pagi.

Sharing ini dibawakan oleh salah satu pasutri. Inti Sharing adalah menjawab pertanyaan: 1) Apa sebab ikut CAMP Pria Sejati Katolik dan Wanita Diberkati (bagi para istri) dan 2) apa hasilnya ?

Isi Sharing menceritakan bahwa saat pasutri tersebut mengikuti retreat ini, kondisi sebenarnya dalam rumah tangga mereka adalah dalam kondisi “hancur” dimana sdh 3 minggu mereka tidak saling bertegur sapa, dan bahkan sudah keluar kata-kata kutuk/negatif yaitu permintaan untuk melakukan CERAI.

Namun Tuhan baik, mereka “tergerak” untuk memperbaiki hubungan mereka dengan mengikuti kedua Camp ini bersamaan.

Sesi demi sesi rupanya membuat pasutri ini semakin menyadari Hak dan Tanggung jawab sebagai seorang SUAMI dan Istri secara benar dimata TUHAN.

Puji Tuhan, setelah mengikuti camp ini, pasutri ini merasa sangat terberkati dan komunikasi mereka yang “hilang” telah ditemukan kembali, Sang Ayah dapat “KEMBALI” menjadi IMAM dalam keluarga dengan memimpin DOA Malam bersama dan kebersamaan dalam keluarga semakin terbangun positif.

Puji Nama Tuhan,

Seluruh Panitia Camp merasa mendapat “Suntikan” baru mendengar kesaksian-kesaksian seperti ini.
Dari yang HANCUR, menjadi diPULIHkan

inilah yang membuat kami semua bersemangat untuk semakin menyebarkan informasi mengenai PRIA SEJATI KATOLIK ini, agar semakin banyak keluarga, pasangan suami istri dan juga kaum muda yang sedang mempersiapkan perkawinannya, mampu menjadi keluarga-keluarga KAtolik yang HANDAL dimata Tuhan.

Tuhan memberkati,

GP

17 February 2009 Posted by | Kesaksian | 3 Comments

Kepada siapa istri anda curhat?

Bagi seorang istri, mencurahkan isi hati adalah suatu kebutuhan. Bagaimana bila hal kecil ini tidak diperhatikan? Berikut adalah sedikit kesaksian dari keluarga Bp. Dwi dan Ibu Grace di KRK 20 Sep 2008.

Bp. Dwi sudah banyak mengikuti retret-retret rohani. Tapi baru di retret Pria Sejati Katolik-lah kesejatiaannya sebagai seorang suami tersentuh. Biasanya bila sang istri ingin curhat, maka dia menganjurkan sang istri untuk mencari pastor. Tapi sepulang dari retret, menurut sang istri, dia mau mendengarkan curhat istrinya dengan penuh perhatian.

Mungkin hal ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi ketika Tuhan membuka hati para pria, maka dipulihkanNya lah segala hubungan yang tidak harmonis di dalam keluarga.

21 September 2008 Posted by | Kesaksian | Leave a comment

Diampuni Papa

Retret Pria Sejati Katolik terbuka juga bagi para pria yang belum menikah. Di dalam acara Pemuridan (Rabu, 10/9/2008) adalah kesaksian sebagai berikut:

Dalam session I dan II saya tersentuh dalam hal perlakuan saya pada papa saya. Selama ini saya banyak mengendalikan beliau.

Setelah dikuatkan dengan doa dari tim panitia, setelah pulang saya memberanikan diri meminta maaf pada papa saya. Dia bilang, “Papa sudah memaafkan kamu.” Sungguh sangat melegakan pengampunan dari papa saya. Leganya itu bahkan masih terasa sampai sekarang.

10 September 2008 Posted by | Kesaksian | Leave a comment

Berhenti merokok

Merokok bukanlah hal yang mutlak dilarang dalam komunitas Katolik. Tetapi jika seorang pria berhasil berhenti dari merokok, maka kita patut bersuka cita karena dia sudah berhasil menjaga tubuhnya yang merupakan bait Allah.

Jumat, 5 Sept 2008, di pertemuan mingguan pria sejati katolik, Bp. Edison mensharingkan pengalamannya berhenti dari rokok. Sharing ini dikuatkan lagi oleh beberapa teman lainnya.

Mengikuti sharing dari teman-temannya, seorang bapak menyatakan mulai malam ini (5/9) ingin berhenti merokok. Tidak menunggu lama, teman-teman yang hadir langsung mendukung dengan bersama-sama mendoakannya.

Keesokan harinya dia sudah tidak merokok lagi. Dan di hari kedua bagian belakang lehernya mulai sakit. Hal ini adalah karena dia tidak merokok.

Tentu bukan hal yang mudah bagi dia. Kita sama-sama mendukung dia dalam doa, semoga dia bisa mengatasi segala cobaan di hari-hari berikutnya, sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

7 September 2008 Posted by | Kesaksian | Leave a comment

Hubungan ayah dan anak dipulihkan

Seorang pria sejati akan lebih mencintai keluarganya. Hubungan suami istri dipulihkan Tuhan, hubungan orang tua-anak pun dipulihkan. Berikut adalah salah satu kesaksian dari peserta retret pria sejati katolik 6-7 Sept 2008:

Setelah mengikuti retret hari pertama, saya ingin membagikan 2 hal pada teman-teman. Pertama pada saat pencurahan Roh Kudus, saya merasakan jamahan Roh Kudus. Tangan saya bergetar. Getarannya itu bahkan dirasakan juga oleh teman di sebelah saya.

Kedua. Kemarin malam saya mengirim SMS kepada anak saya, “Papa minta maaf karena sudah menghukum kamu dengan memukul.” Sungguh mengharukan menerima balasan dari anak saya, “Saya mengerti mengapa papa memukul saya, itu untuk kebaikan saya supaya saya tidak nakal.”

Tentu saja bukan ‘pengampunan dari anak’ yang menjadi tujuan pertobatan, tetapi perubahan hati seorang ayah. Ayah yang akan lebih mencintai anaknya. Tidak dengan cara-cara yang biasa, tetapi dengan cara pria sejati yang sudah diubahkan Tuhan.

7 September 2008 Posted by | Kesaksian | 1 Comment

Saya tidak ingin diganggu

Seorang dari alumni retret Pria Sejati Katolik menulis:

“Menjadi pria sejati bagi saya tantangannya adalah menyeimbangkan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan keluarga.

Biasanya saya mendahulukan ego saya ketika di rumah, apalagi jika sedang dikejar deadline. Saya akan sibuk di depan komputer, penuh konsentrasi dan tidak mudah diganggu. Ketika anak atau istri saya mengganggu, saya akan mudah emosi karena ‘tekanan deadline’ (atau kadang-kadang sebenarnya hanya  ‘keasikan pribadi saya’) ditambah dengan permintaan/tekanan anak atau istri. Nada bicara saya akan mudah meninggi. Setelah itu istri akan marah juga. Dan pada akhirnya istri saya akan mengatakan ‘papa sekarang gampang marah’.

Yang saya lakukan sekarang adalah memberi perhatian juga akan kebutuhan anak dan istri. Jika anak saya yang masih TK minta dibacakan sesuatu, saya bacakan sambil memberi dia kasih sayang dengan memangkunya dan memeluknya. Jika anak saya yang besar minta dibantu belajar, saya mencoba merelakan kepentingan saya dan memberi perhatian akan kebutuhan anak saya. Jika istri minta tolong sesuatu, saya segera meninggalkan konsentrasi saya, dan membantu istri dulu.

Kadang-kadang memang terlalu sulit. Sampai-sampai pekerjaan yang sedang dikerjakan jadi terbengkalai. Dan juga sulit untuk selalu tetap melakukan hal-hal yang baik tersebut. Perlu kesadaran penuh (akan niat memperhatikan istri dan anak) ketika permintaan anak dan istri itu datang.

Salah satu kuncinya adalah penyerahan kepada Tuhan. ‘Pekerjaan dengan deadlinenya’ saya serahkan pada Tuhan. Walaupun waktu saya tidak sepenuhnya pada pekerjaan, saya yakin Tuhan akan mencukupkan waktunya. Ketika Tuhan turun tangan, dengan waktu yang terbatas pun (karena banyak gangguan dari anak dan istri) saya akan mampu menyelesaikannya.

Ternyata ketika saya punya masalah. Itu adalah ujian dari Tuhan juga. Apa yang saya pentingkan di dunia ini? Mengerjakan tugas (yang kadang-kadang adalah kepentingan pribadi) atau mengasihi keluarga? Kalau saya lengah, saya pasti akan mementingkan tugas, dengan akibat emosi tinggi di rumah. Tetapii jika saya sadar akan ujian ini, saya akan memilih untuk mengasihi keluarga saya. Saya harap saya bisa tetap mempertahankan sikap ini sehingga bisa menjadi pria sejati yang seperti Kristus.

Semoga kesaksian ini berguna bagi teman-teman pria sejati katolik lainnya.

Tuhan Yesus memberkati”

20 August 2008 Posted by | Kesaksian | 1 Comment

Kesaksian pada KRK 29 Maret 2008

Sabtu, tgl 29 Maret 2008 di Gereja St. Stefanus, Cilandak, Jakarta telah diadakan Kebaktian Kebangunan Rohani yang khususnya diadakan untuk peserta camp Pria Sejati Katolik dan Wanita Diberkati.

Ini adalah kutipan beberapa kesaksian yang dibawakan dalam acara tersebut:

Bp. E dan istri:

Setelah mengikuti camp Pria Sejati Katolik, sudah sebulan ini saya tidak marah-marah dengan anak-anak. Kalau saya mau marah, saya tanya dulu pada mereka, “Papa boleh marah ngga?” dan mereka akan menjawab “Ngga” 🙂

Bp. Y dan istri:

Saya adalah orang Katolik sejak kecil. Saya jadi putra altar. Dulu saya sangat “diberkati” karena cari kerja gampang, cari uang gampang. Tetapi kehidupan saya di luar Tuhan. Senin-Jumat saya suka pulang pagi. Sabtu dan Minggu saya memperlakukan kamar saya seperti hotel bintang 5. Saya tidak boleh diganggu. Kelima dosa pria saya lakukan. Saya sering berantem dengan istri. Dan saya beringasan. Sampai akhirnya tahun 2006 Tuhan membuat semua berubah. Saya sulit cari uang. Teman-teman tidak ada lagi.

Saya ikut camp Pria Sejati Katolik karena diancam ‘divorce’ oleh istri. Saya sayang keempat anak saya dan tidak ingin  divorce yang akan menyakiti hati mereka. Mengikuti camp Pria Sejati Katolik angkatan pertama, saya menangis terus selama mendengarkan sesion-sesion yang dibawakan.

Sekarang Tuhan mengubahkan saya, walaupun masih ada kekurangan saya. Saya sekarang tahu bahwa dalam hidup ini kita harus pertama-tama mengasihi istri dan anak-anak. Pada saat kita sukses, kita bisa banyak teman. Pada saat kita susah, hanya istri dan anak-anak yang akan mendampingi kita.

Bp. A:

Saya sudah terlibat pelayanan sejak lama. Terutama pelayanan kepada anak-anak muda. Sayangnya saya sulit lepas dari dosa pornografi. Bila di hadapan internet, saya bisa menikmati pornografi dari jam 1 siang sampai jam 4 pagi. Walaupun Tuhan pernah memperingatkan saya dengan “satu kali saya jijik sekali dengan apa yang salah lihat karena pornografi yg saya lihat hanya seperti gumpalan-gumpalan daging saja”. Tapi tetap tidak mengubah kehidupan saya.

Kehidupan keluarga saya juga tidak baik. Saya kasar pada istri. Kadang-kadang maunya saya adalah pertengkaran kami tidak terdengar oleh anak, sehingga saya harus menutup mulut istri saya. Tapi dari pandangan istri: saya telah memukulnya, membenturkan kepalanya ke tembok, dsb. Sampai puncaknya suatu kali saya sampai ingin membunuh istri saya (saya mengejar-ngejar istri saya utk membunuhnya). Sayangnya hal itu diketahui anak saya dan beberapa anak muda yang ingin minta tanda tangan saya di rumah. Saya yang selama ini menjadi panutan, malah memberikan image buruk. Bahkan setelah berpisah selama 1 bulan pun dgn istri, saya tetap tidak berubah. Dalam keadaan stres, pelarian saya adalah ke pornografi.

Suatu kali saya ke gereja dan berdoa minta bantuan Tuhan untuk pekerjaan saya membuatkan visi-misi client saya. Hari itu Tuhan tegur saya. Hari minggu pun saya memikirkan client saya. Kenapa saya tidak memikirkan ‘visi misi keluarga’ saya. Mulai hari itu saya bertekad menyelamatkan keutuhan keluarga saya.

Puji Tuhan sekarang kehidupan saya sudah berubah total.

30 March 2008 Posted by | Kesaksian | Leave a comment